Harapan Terwujud Dimulai dari Diri Kita


Baiklah....mumpung ini masih bulan Januari....jadi masih anget angetnya pergantian tahun 2016. Diawal tahun, hampir semua orang memanjatkan doa dan harapan yang lebih baik selama setahun kedepan. Saya pun juga memiliki harapan yang sangaaat besar ditahun ini. Harapan yang saya tunggu tunggu ditahun ini adalah terwujudnya revolusi mental tanpa ba bi bu....

Sebenarnya konsep revolusi mental pernah digelorakan saat pemerintahan presiden Soekarno. Revolusi yang dilakukan oleh presiden Soekarno lebih kepada perjuangan fisik dengan melawan para penjajah untuk mempertahankan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Sedangkan revolusi mental yang dibangun kembali oleh pemerintahan Jokowi-JK lebih mengutamakan pada perubahan pola pikir, cara pandang dan cara berperilaku untuk membentuk suatu jiwa yang merdeka. Revolusi mental merupakan sebuah perubahan, yaitu berubah menjadi yang lebih baik. Gerakan revolusi mental ini diharapkan dapat mengembalikan karakter orisinil bangsa Indonesia yang berketuhanan, menjunjung tinggi sopan santun, toleransi, gotong royong, kedisiplinan, kerja keras dan semangat juang optimis yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. 

Sayangnya, akhir tahun 2015 masyarakat Indonesia disuguhkan dagelan dan sandiwara anggota MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) serta kalangan elit politik lainnya tentang perpanjangan kontrak PT freeport. Adegan yang ditampilkan dengan begitu apik oleh sang aktor utama Setya Novanto menggegerkan dunia politik di tahan air. Bahkan berita tersebut menjadi tranding topic selama beberapa minggu. Selain itu, praktik korupsi yang belum hilang dilingkungan pemerintah menambah masalah yang harus dihadapi oleh bangsa ini. Kejadian tersebut menggores kepercayaan masyarakat terhadap aparat negara dan bertolak belakang dari kaidah revolusi mental yang memberikan pelayanan publik yang berpihak pada rakyat.‎ Jika hal ini terus berlanjut maka krisis integritas dan merosotnya kewibawaan pemerintah akan semakin parah. Hingga saat ini implementasi revolusi mental belum kentara. 

Gerakan revolusi mental yang dirasakan hanya sebatas narasi semata. Seharusnya aparat negara serta para koleganya bisa menjadi contoh dalam mempelopori perilaku yang mendukung gerakan revolusi mental. Namun jika gerakan revolusi mental ini hanya dilakukan oleh aparat negara namun masyarakatnya tidak bisa diajak berubah, gerakan revolusi mental pun akan sia-sia. Revolusi mental tidak akan terwujud jika hanya menunggu siapa yang harus memulai berubah, apakah aparat pemerintah dahulu atau masyarakatnya dahulu. Alangkah baiknya jika gerakan revolusi mental ini dilakukan secara sinergis antara aparat negara dengan masyarakat. Semua pihak harus ikut andil dalam menjalankan gerakan revolusi mental, itulah kunci utama untuk mewujudkan gerakan ini. 

Implementasi gerakan revolusi mental bisa dilakukan dengan berani berubah (menjadi lebih baik) mulai dari diri sendiri dengan mengawali dari hal-hal terkecil seperti membuang sampah pada tempatnya, mematuhi peraturan lalu lintas, disiplin, saling gotong royong, disiplin, menghormati orang tua, meninggalkan perilaku korupsi dan saling menghargai. Sehingga dengan sikap tersebut, diharapkan revolusi mental bukan hanya bualan belaka Memang, program ini tidak bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Memang, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk ber migrasi dari hal negatif ke hal positif, Masih banyak tantangan, dan cobaan untuk memulainya. Butuh waktu lama untuk mewujudkannya secara total. Namun, gerakan revolusi mental kalau bukan dimulai dari sekarang kapan lagi? kalau tidak dimulai dari diri kita siapa lagi?
Coba bayangkan....Jika satu orang mulai menanamkan sikap seperti ini dan diikutu orang lain.....dannn diteruskan lagi dengan orang lain pula,,alangkah hebatnya negara ini, Ayo saatnya berani berubah!!!

“Dahsyat!” Kekerasan Meningkat, Hukum Kurang Menjerat


Kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia - Mulai dari aceh hingga Papua - kini sudah menjadi trend. Banyak pemikiran masyarakat yang menyimpang dan berpikiran bahwa kekerasan merupakan solusi yang terbaik dalam menyelesaikan masalah. Julukan Indonesia sebagai “negara yang paling ramah” pun mulai dipertanyakan. Kerukunan masyarakat mulai terkikis.  Tindakan anarkisme -terutama di ibu kota-  tak terelakkan. Kerusakan dan kerusuhan dari aksi anarkisme dan kekerasan masyarakat tak dapat ditekan. Terlebih tindak kekerasan di ibu kota. Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya bahwa kejahatan dengan kekerasan di Jakarta pada semester pertama 2012, mencapai 331 kasus, hal ini melampaui angka kejahatan dengan kekeraasan di tahun 2011 dengan 257 kasus dalam satu tahun.
            Konflik-konflik yang berkepanjangan dan tak kunjung usai, menjadikan masyarakat tumbuh tak beraturan dan brutal. Tak ada sikap toleransi terhadap golongan yang berbeda. Rasa Bineka Tunggal Ika masyarakat pun hilang. Kekerasan tak hanya terjadi antar kelompok tertentu. Perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa pun tak luput dari ancaman kekerasan. Organisasi yang bekerja untuk isu perempuan dan HAM beserta Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Aceh mencatat, sepanjang 2011 sampai 2012 telah terjadi 1.060 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, 561 kasus telah dilakukan verifikasi dan analisa yang kemudian diketahui 73,6 persen di antaranya adalah kekerasan rumah tangga.
             Dahsyatnya peningkatan kekerasan yang terjadi di masyarakat mempertanyakan kekuatan hukum di negara ini. Banyak masyarakat main hakim sendiri, seolah-olah tak ada hukum yang menengahi karena penegakan hukum yang lamban. Kelambanan inilah yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri hingga seringkali keluar dari jalur kaidah hukum yang berlaku.  Hal ini menunjukkan masyarakat semakin kehilangan kepercayaan terhadap hukum yang berlaku akibat lemahnya sistem hukum dan pemimpin yang kurang berwibawa di depan publik. Kekuatan hukum mulai melemah akibat dikendalikan kekuasaan dan uang, sehingga hukum tidak dijadikan patokan utama bagi masyarakat. Hukum yang harusnya bisa menjerat yang bersalah pun dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
            Hukum seyogyanya bertindak adil sehingga dapat membangun dan memperbaiki peradaban sosial masyarakat. Setiap insan mempunyai hak dan kedudukan yang sama di depan hukum, tak ada pengecualian baik dari kalangan konglomerat hingga rakyat jelata. Jika mata rantai tindak kekerasan ini tidak segera diputus dengan hukum yang tegas dan adil maka kekuatan hukum rimba –yang kuat yang berkuasa- akan mendominasi.
            Negara ini harus bekerja keras memperbaiki kekuatan hukum agar bisa dijadikan panglima dalam menghadapi kekerasan di masyarakat. Kewibawaan dan kebijaksanaan pemerintah dalam mengatur masyarakat harus ditingkatkan agar terbangunnya sistem hukum yang adil dan tegas tercapai. Yang tidak kalah penting adalah partisipasi dari masyarakat dalam menanamkan sikap toleransi dan saling memaafkan sehingga kekerasan pun dapat diminimalisir.

Kala Kesempatan Tak Datang Dua Kali, Penyesalanpun Menggeregoti


Inilah karya saya pertama kali dimuat di sebuah media cetak...
namun yang sangat menyedihkan adalah, saya tak punya arsip dari tulisan dikoran tersebut. Hal ini menjadi teguran baru bagi saya,,,,,walaupun saya tidak memiliki arsip berupa pure koran namun alhamdulillah terdapat arsip yang di muat di internet...bagi temen2 yang memiliki koran sindo edisi tanggal 11 April 2013,,,bersediakah untuk dijual ke FARIDA :D....
bagi para penulis....ayoo semangat dalam kepenulisannya,,,,!!!

Saat Obat Herbal Menjadi Bahaya



        

“100% terbuat dari herbal alami, bebas efek samping” biasanya kalimat tersebut sering tertulis di brosur obat herbal yang merupakan iming-iming tawaran dari produk obat herbal. Selain itu agar lebih menarik lagi terdapat gambar tumbuhan yang segar, bewarna cerah dan menarik untuk di pandang, sehingga membuat tak sedikit masyarakat ikut terhipnotis beralih ke obat herbal. Ingin sembuh, langsing, cantik, lebih menawan secara instan tanpa merasakan sakit dan tak perlu bersusah payah melakukan terapi merupakan faktor utama pasien memilih obat herbal. Selain itu, banyak terjadinya malpraktek di dunia medis merupakan salah satu faktor penyebab masyarakat beralih ke obat herbal dan banyak rumor yang berkicau bahwa obat-obat sintetik lebih berbahaya dan menimbulkan banyak komplikasi. Mereka berpikir bahwa obat herbal tidak memiliki efek samping sama sekali. 

            Terjaminnya tak ada efek samping dari obat herbal menyebabkan orang-orang berlebihan dalam mengkonsumsinya agar penyakit dapat disembuhkan dengan cepat. Padahal segala sesuatu yang digunakan secara berlebihan itu tak baik. “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S Al-An’am : 141).
            Obat herbal ataupun sintetik jika digunakan secara berlebihan tetap akan menimbulkan efek samping. Contohnya, pada penderita hipertensi, jika pasien ini meminum jus mentimun secara berlebihan, tanpa adanya dosis maka tekanan darah pun akan turun drastic yang dapat menyebabkan hipotensi. Juga pada penderita diare, jika mengkonsumsi daun jambu biji secara berlebihan dan tak sesuai dosis dapat menyebabkan konstipasi. Selain itu, lama penyimpanan obat herbal (jamu) tidak ada kepastian yang signifikan.
            Segala sesuatu pasti ada kekurangan dan kelebihannya termasuk obat herbal. Kelebihan dari obat herbal diantaranya adalah harganya lebih terjangkau, memiliki efek samping yang relative kecil, tidak menimbulkan rasa sakit, mudah di dapat dan mudah cara penggunaannya. Namun obat sintetik juga memiliki kelebihan, diantaranya obat sintetik sudah melalui pengujian ilmiah, dosis sudah diketahui, lebih stabil dan memiliki efek farmakologi yang besar.
            Meskipun obat herbal dipandang tak memiliki kekurang namun kekurangan dari obat herbal tak kalah banyak jika dibandingkan dengan obat sintetik. Diantaranya adalah obat herbal masih belum terbukti ilmiah, standar atau bahan baku sering berubah dalam takaran maupun ramuannya, mudah tercemar mikroorganisme, dosis yang tidak jelas, efek farmakologisnya lemah, pemasaran obat herbal tidak seketat obat sintetik yang menyebabkan kualitas dari obat herbal di pasaran belum tentu baik. Obat herbal juga tidak dapat menyembuhkan penyakit yang bersifat traumatic serius seperti contohnya patah tulang, radang usus buntu dan pasien diabetes mellitus tipe 1. Selain itu pengobatan herbal dapat berinteraksi dengan obat sintetik (konvensional).
            Hal ini di perparah jika ada pasien menggunakan kombinasi antara obat herbal dan obat sintetik agar dapat sembuh dengan cepat. Pasien yang ingin mengobati penyakitnya dengan obat herbal harus memperhatikan terjadinya interaksi obat. Contohnya mengkonsumsi ginseng yang dibarengi dengan obat digoksin akan meningkatkan kadar digoksin dalam darah yang dapat menyebabkan efek toksik1. Atau bunga elder (Sambucus nigra L) yang berkasiat sebagai antitusif jika di berikan dengan morfin dalam jangka waktu yang berbeda juga akan memberikan efek yang berbeda. Contohnya pada menit ke 90 setelah pemberian morfin maka dapat menurunkan efek analgesik morfin, pada menit ke 150 setelah pemberian morfin maka bunga elder tidak mempengaruhi efek analgesik morfin dan pada menit ke 10 setelah pemberian morfin maka terjadi peningkatkan efek analgesik morfin. Orange jus (Citrus aurantium L) yang banyak memiliki khasiat pun juga berbahaya jika dikombinasi dengan Felodipin (obat hipertensi) yang dapat meningkatkan kadar felodipin dalam darah yang menyebabkan toksik, ataupun pada Dextromethorphan (antitusive) yang dapat meningkatkan absorpsi Dextromethorphan (tak berefek).2
            Sebenarnya obat sintetik maupun obat herbal tidak akan berbahaya jika penggunaannya tepat, sesuai dosis dan rasional. Untuk menghindari terjadinya interaksi obat, maka pasien perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Kesembuhan tidak akan tercapai jika hanya mengkonsumsi obat namun tidak di barengi dengan pola hidup sehat, olah raga dan istirahat yang cukup.
            Persoalannya adalah apakah para pengguna obat herbal berkenan untuk berkonsultasi ke tenaga kesehatan? Persoalan ini muncul karena trauma yang terjadi pada masyarakat tentang malpraktek dan konsultasi kepada tenaga kesehatan memerlukan biaya yang tak sedikit.

Catatan :
            1Jurnal ilmiah  “Elevated  serum digoxin levels in a patient taking digoxin and Siberian ginseng”
                2Williamson, Elizabeth dkk. Stockley’s Herbal Medicines Interaction. 2009. London: Pharmaceutical Press.

Hasil Impor Menjadi Momok Petani Indonesia


        
            Akhir-akhir ini banyak harga bahan pokok meroket tajam. Dimulai dengan kenaikan beras, minyak goreng, kedelai, susu, telur, dan daging ayam yang semakin mencekik rakyat menengah kebawah. Rakyat pun bingung harus makan apa lagi, makanan yang merakyat seperti tempe dan tahu pun ikut naik akibat dari bahan baku kedelai naik. Harga daging sapi, bawang merah dan bawang putih pun tak mau kalah untuk meroket tajam.  Harga daging sapi di pasaran naik hampir 100 % dan yang tak kalah mengherankan adalah  harga bawang merah dan bawang putih naik hingga 600 %. Ini merupakan tamparan keras untuk pemerintah atas kebijakan yang dibuat selama ini.


            Bangsa Indonesia masih tergantung dengan barang impor akibat dari konsekuensi dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang sama sekali tidak memihak kepada petani dan dunia pertanian. Setiap hari rakyat  dicekoki bahan-bahan impor oleh pemerintah. Hal ini yang memicu rakyat lebih ketergantungan terhadap hasil impor daripada hasil lokal. Hasil impor inilah yang menyebabkan  momok para petani dalam semangat bercocok tanam. Lahan pertanian yang seyogyanya digunakan untuk bercocok tanam malah digusur untuk pembangunan perumahan dan perindustrian.
            Dahulu Indonesia sukses menekspor hasil pertaniannya. Sandang dan pangan tersedia secara melimpah dan tersebar secara merata di seluruh tanah air. Hal ini dibuktikan dengan pencapaian swasembada pangan  pada tahun 1985 menjadikan negara Indonesia sebagai contoh sukses bagi negara berkembang lainnya untuk mengentaskan masyarakat dari kelaparan dan kekurangan pangan. Sehingga Indonesia memperoleh predikat sebagai negara agraris.
            Sayangnya kelimpahan pangan di Indonesia saat ini menurun. Bahan pangan tak tersebar merata hingga pelosok Indonesia. Hal ini yang menyebabkan  kelangkaan bahan pangan di daerah tertentu yang memicu peroketan harga bahan pangan. Apakah Indonesia saat ini masih pantas menyandang predikat negara agraris?.
            Agar hasil pertanian lokal tidak kalah dengan  hasil pertanian impor maka harus dibarengi dengan penggunaan tehnologi yang modern sehingga produk lokal tak kalah bersaing dengan produk impor. Para pemegang kebijakan seharusnya merangkul para petani dan membangun sarana prasarana serta memberikan pendidikan untuk para petani dan calon petani agar menghasilkan produk pertanian yang unggul. Selain itu, membuat kebijakan dalam  penataan lahan yang meliputi penetapan  lahan abadi untuk pertanian sehingga tidak terjadi penyempitan lahan pertanian. Dengan demikian bahan impor tak menjadi momok lagi bagi para petani.

Persahabatan di Balik Kebrutalan Remaja







            Cerita yang dibawakan oleh film Meung Gu/ My True Friend ini sedikit mengandung kekerasan namun tersembunyi kelembutan dibalik kekerasan itu. Film yang di sutradarai oleh Adsajun Sattagovit ini lebih menceritakan kehidupan anak muda yang mulai beranjak dewasa. Kenakalan, kebrutalan, persahabatan bahkan percintaan pun diulas dalam film ini.
            Film yang menyibak fakta-fakta kehidupan anak muda ini bermula dari seorang anak muda yang bernama Song (Natcha Jantapan) mahasiswa pindahan yang tinggal bersama kakaknya disebuah apartemen di sebuah kota yang dipenuhi para gangster. Song mulanya tak ingin berurusan dengan para gangster tersebut dan berteman dengan seorang gadis cantik bernama Name (Monchanok Saengchaipiangpen) dan Dew (Ranee Campen). Ia pun awalnya terpesona dengan Dew yang merupakan senior dari Song.
            Suatu hari tak sengaja Song melempar bola ke arah Champ (Varit Limatibul) salah satu dari anggota geng SPERM yang menyebabkan ketua dari geng  SPERM “Gun (Mario Maurer)” mengajak Song bermain bersama. Sebelumnya geng SPERM yang diketuai oleh Gun ini memiliki 6 anggota yaitu Tod (Nawapaiboon Wuthinanon), Nik (Poom Sungsrithananon), Kla (Sirapop Daongern), Champ, dan Arm (Kittipat Samantrakulchai). Akhirnya Song pun ikut bergabung dalam geng ini. Disinilah Song menemukan sahabat yang selalu menemaninya. Song memiliki kehidupan yang rumit karena kedua orang tuanya yang telah bercerai.
            Anggota dari genk ini masing-masing memiliki sifat yang unik mulai dari Nik yang penakut, gun seorang pemuda kaya yang mementingkan persahabatannya lebih dari apapun, Kla yang kasar dan keras kepala, Tod yang matre, Arm yang cerewet dan Champ yang konyol yang membuat Song menemukan hal baru yang belum pernah ia miliki. Gun mengajarkan Song bahwa kemenangan dari sebuah perkelahian tak harus menghabisi nyawa orang, berkelahi hanya cukup sampai menang,  tidak sampai membunuh  lawannya dan menyayangi teman tak berarti memanjakannya. Gun tidak pernah terima jika temannya di palak ataupun mengalami ketidak adilan.
            Ditengah-tengah cerita geng ini mengalami perpecahan karena sifat Nik yang penakut dan menyebakan mereka terjeblos di penjara. Suatu ketika Tod di tangkap oleh NIGHT BAZAAR (yang memiliki anggota lebih banyak dari geng SPERM) karena telah memukuli seorang anak dewan. semula Beer yang merupakan lawan dari geng SPERM pun ikut bergabung dengan geng yang diketuai oleh Gun ini. Alasan Beer ikut bergabung adalah ia tidak terima melihat kelakuan dari Keng (Rakchawan Maruokasonti) yang hanya mementingkan kemenangan dan sok akrab. Gun pun meluluhkan hati Beer untuk menjadi teman dan masuk menjadi anggota geng SPERM. Geng SPERM akhirnya kalah saat melawan geng NIGHT BAZAAR namun ketangguhan Gun melawan musuh-musuhnya demi menyelamatkan Tod membuat ketua dari NIGH BAZAAR pun melepaskan Tod.
            Film ini berakhir dengan kematian Gun karena tusukan pisau Keng. Kematian Gun ini menyadarkan orang tuanya bahwa uang bukanlah segalanya, uang tak dapat membeli sebuah nyawa yang telah hilang. Kesedihan pun menyelimuti hati semua anggota geng SPERM. Balas dendam pun tak ter elakkan. Terjadi pertarungan sengit antara Song dan Keng. Song begitu tangguh melawan Keng.  Dimasa mendatang dua anggota geng SPERM meninggal dan sisanya hidup dengan penuh pertimbangan, kekerasan saat masa remaja menjadi kenangan pahit yang ingin mereka lupakan. Namun persahabatan yang mereka tanam tetap terpatri didalam hati.
            Disini Akting Sirapop Daongern sebagai Kla patut di puji. Dengan postur tubuh tinggi dan muka garang, tokoh Kla terasa paling nyata.  Mario Maurer yang berperan sebagai Gun pun tak kalah apik dalam berakting. Namun  Karakter Nik, Champ, Tod, dan Arm yang diperankan oleh Poom Sungsrithananon, Varit Limatibul, Nawapaiboon Wuthinanon, Kittipat Samantrakulchai seharusnya bisa menciptakan suasana lucu, namun tidak terlalu tampak dalam film ini. Namun secara keseluruhan Film ini layak untuk ditonton dan membuat hati terenyuh. Film My True Friend ini memberikan penekanan bahwa Persahabatan lebih berarti dari segalanya.

Cacat Politik Membuat Rakyat Tercekik

            Jika kita berbicara politik pemikiran pertama kali yang muncul adalah korupsi dan birokasi yang ruwet. Tak tanggung-tanggung angka korupsi oknum partai politik pun membuat rakyat mengelus dada. Cacat internal oknum parpol akhir-akhir ini pun telah terbongkar. Mulai dari penetapan Anas Urbaningrum, terkait kasus korupsi Hambalang, penangkapan pentolan PKS Luthfi Hasan Ishak dalam kasus korupsi impor daging sapi Departemen Pertanian, kasus Andi Mallarangeng karena korupsi Hambalang, kasus Century yang tak tau ujungnya dan berbagai kasus korupsi lainnya. Parahnya lagi, penegakan hukum yang kurang tegas terhadap kasus korupsi pun membuat sang koruptor tak jera. Hukum yang berlaku bukannya menekan angka korupsi namun melahirkan bibit-bibit koruptor yang baru. Hal ini yang mencoreng sistem politik demokrasi yang sedang dianut Indonesia.
           
sumber : http://www.muhammadiyah.or.id


Keegoisme parpol terhadap ideologi masing-masing, membuat kesejahteraan masyarakat pun terabaikan. Kepercayaan masyarakat pun terkikis terhadap para pemegang kebijakan. Cacat politik yang menjadi-jadi membuat rakyat semakin tercekik. Hal ini akan berimbas pada pemilu di tahun mendatang. Masalah ini akan melahirkan lebih banyak masyarakat yang golput. Rakyatpun tak ingin tercekik untuk kedua kalinya. Potret suram dunia politik membuat masyarakat enggan berpartisipasi dalam pemilu. Rakyat merasa jenuh dengan permainan politik yang  di perankan oleh pemegang kekuasaan yang berada di panggung demokrasi. Demokrasi yang dimainkan tak sesuai dengan yang semestinya.  Demokrasi yang harusnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat pun melenceng.
            Jika kepercayaan rakyat tak diobati, maka tamatlah pemilu di tahun mendatang. Cacat politik yang terjadi sebaiknya segera diobati. Hukum yang bermain seyogyanya harus tegas dan tak pandang bulu. Menghukum yang seharusnya dihukum dan harus menjerat yang pantas dijerat agar semakin jera. Arah politik harus diputar kembali ke orientasi bahwa rakyat adalah tujuan utama. Jangan sampai  jiwa rakyat untuk berpolitik dan peduli terhadap bangsa tererosi. Jika hal ini terus berkelanjutan, pudarnya jiwa berpolitik akan menular ke generasi muda mendatang yang dapat menghancurkan bangsa.